Lesbumi PCNU Kabupaten Mojokerto menggelar Pagelaran Seni Santri dan Ngaji Budoyo di Pondok Pesantren Darussalam Cagak Wali, Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal pada Selasa malam (20/10/2026). Kegiatan dalam rangkaian Hari Santri Nasional 2026 ini memadukan dakwah pesantren dengan pelestarian seni tradisi melalui lantunan macapat, tari remo, wayang kulit, hingga kupasan kitab dan Serat Wulangreh
MOJOKERTO – Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Mojokerto sukses menggelar Pagelaran Seni Santri dan Ngaji Budoyo pada Selasa Kliwon malam (20/10/2026). Bertempat di Pondok Pesantren Darussalam Cagak Wali, Desa Ngastemi, Kecamatan Bangsal, kegiatan ini menjadi salah satu agenda unggulan dari 18 rangkaian acara peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 PCNU Kabupaten Mojokerto.
Acara ini dihadiri langsung oleh Pengasuh PP Darussalam Cagak Wali sekaligus Ketua Lesbumi MWCNU Bangsal Gus Rofiq, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Mojokerto Ki Narto, Ketua Tanfidziyah MWCNU Kecamatan Bangsal Ustadz Maskur beserta jajaran Syuriah dan Badan Otonom NU, Kepala Desa Ngastemi, serta para tokoh budayawan dan kasepuhan seperti Ki Dalang Suwaji, Gus Rasyid (Paseban Sekar Bawono Jetis), Gus Yudi (Eyang Macan Putih), Gus Iwan, Bapak Sukadi (Amongtani), dan Mas Kukun Triyoga (Komunitas Persada).
Panggung Apresiasi Seni Tradisi: Dari Macapat hingga Wayang Kulit
Rangkaian acara diawali dengan lantunan sholawat oleh grup Santri Jawa PP Darussalam Cagak Wali yang membawakan syair-syair religi berpadu pitutur Jawa seperti "Wong Jawa Ojo Ilang Jawane". Setelah pembukaan, menyanyikan lagu Indonesia Raya, dan Mars Syubbanul Wathan, suasana semakin khidmat dengan lantunan Pangkur Singgah-Singgah oleh Pak Maji asal Pungging serta Sekar Dhandhanggula Bawa Setya Tuhu oleh Kang Dewi Suluk Aji dari Mojosari.
Sejumlah pelantun macapat dari berbagai paguyuban turut bergantian membawakan pupuh Pangkur, Asmaradana, Sinom, Pucung, hingga Dhandhanggula tadabbur Al-Fatihah. Salah satu penampilan yang memukau jemaah adalah lantunan Sekar Dhandhanggula dari Serat Wulangreh oleh pelantun muda, Ananda Hana Sasmita Hakiki dari Paguyuban Macapat Ngudi Rukun.
Kemeriahan panggung budaya berlanjut dengan suguhan Tari Remo oleh Komunitas Persada binaan Mas Kukun Triyoga, serta pagelaran wayang kulit oleh Ki Dalang Suwaji bersama Wayang Netral Kru. Dalam lakon yang dibawakan, Ki Dalang Suwaji mengangkat filosofi turunnya Semar dan pencarian wahyu Layang Kalimasada—lambang dua kalimat syahadat—serta sejarah aksara Pegon di tanah Jawa.
Sinergi Lesbumi dan Pesantren Merawat Jati Diri Santri
Dalam sambutannya, Ketua Lesbumi PCNU Kabupaten Mojokerto, Ki Narto, menyampaikan apresiasi tinggi kepada keluarga besar PP Darussalam Cagak Wali yang dipercaya menjadi tuan rumah Pagelaran Seni Santri dan Ngaji Budoyo tingkat kabupaten. Ia menegaskan bahwa PP Darussalam Cagak Wali merupakan tonggak penting perpaduan dakwah Islam dan budaya Jawa di Mojokerto agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budi pekerti leluhur.
Senada dengan hal tersebut, Ketua MWCNU Kecamatan Bangsal, Ustadz Maskur, mengingatkan kembali spirit Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 yang dicetuskan Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari. Menurutnya, kolaborasi antara syariat dan kebudayaan melalui majelis rutinan Selasa Kliwon yang diasuh Gus Rofiq merupakan wujud nyata kontribusi santri dalam merawat kemerdekaan dan membimbing masyarakat.
Ngaji Budoyo, Istighotsah, dan Penutupan
Memasuki inti acara Ngaji Budoyo, Gus Rofiq mengupas secara mendalam makna tembang Dhandhanggula karya Pakubuwono IV dalam Serat Wulangreh yang sebelumnya dilantunkan di atas panggung. Beliau menjelaskan pesan ulama Jawa agar umat Islam tidak tergesa-gesa menerima suatu klaim keilmuan sebelum menyaringnya dengan empat landasan utama mazhab Ahlussunnah wal Jama'ah, yakni Al-Qur'an, Hadis, Ijma' ulama mujtahid, dan Qiyas.
Gus Rofiq juga memaparkan kearifan dakwah Wali Songo—mulai dari sanad keilmuan Sunan Bonang dan Sunan Kalijaga hingga era Mataram Islam—yang mentransformasikan nilai-nilai Al-Qur'an dan hadis ke dalam aksara Pegon, filosofi Hanacaraka, serta tembang macapat yang sarat pitutur luhur.
Usai pemaparan Ngaji Budoyo, seluruh jemaah larut dalam pembacaan syair I'tiraf berbahasa Arab dan Jawa, dilanjutkan dengan Istighotsah ijazah Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari serta Mahallul Qiyam. Rangkaian acara ditutup secara khidmat dengan doa Kidung Mantra Wedha yang dilantunkan oleh Gus Iwan, kemudian dipungkasi dengan hiburan rakyat berupa atraksi seni pencak silat dan bantengan oleh grup Putro Taruno Joyo Samudro dengan pengamanan tertib dari Banser Satkoryon Bangsal dan Macan Ireng PSB.
Galeri foto
Pagelaran Seni Santri & Ngaji Budaya — Selasa, 20 Oktober 2026 · 19.30 WIB sampai selesai, Halaman Pondok Pesantren Darussalam, Bangsal.


